Chairil Anwar Para sahabat dahsyat yang saya hormati. Catatan berikut ini adalah kelanjutan dari catatan saya sebelumnya yang berjudul “Flâneur Melayu.” Jika Anda merasa ada yang menggantung di tulisan tersebut artinya perasaan Anda sama dengan perasaan saya. Untuk menghindari “baper” berkelanjutan saya memutuskan untuk menulis catatan lanjutan dari tulisan saya terdahulu yang ditutup dengan mengutip puisi Chairil Anwar tahun 1943 Cerita, Kepada Darmawidjaja itu. Sepengetahuan saya Chairil Anwar termasuk salah seorang penyair yang puisi-puisinya membuka jalan bagi puisi-puisi yang menaruh hormat pada segala hal yang dianggap “kekinian.” Chairil Anwar adalah penyair yang tak hanya mahir memilih kata yang tepat untuk diucapkan di puisi-puisinya tapi lebih dari itu Chairil menulis puisi-puisinya dengan penuh gaya. Chairil adalah penyair kece. “Kekecean” puisi-puisi Chairil saya curiga bermuasal dari keyakinan dan kepercayaan dirinya pada gagasan-gagasan besar yang merasuki pikira...
Arsip tulisan Khudori Husnan