Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label husnan

Belajar menjadi Penceramah (4)

Pendekatan akademik dalam ceramah tak pernah ketinggalan. Prof. Quraish Shihab dan Professor Nasaruddin Umar adalah beberapa di antaranya.  Dengan bertitik tolak dari disiplin Tafsir Al Qur'an, kedua professor dari UIN Syarif Hidayatullah ini masih terus memberi pencerahan ke  masyarakat ihwal persoalan-persoalan kemasyarakatan hingga tauhid dengan berlandaskan tafsir atas nash-nash Al Qur'an. Pendekatan tematik yang diketengahkan beliau-beliau, masih mendapat tempat istimewa di kalangan muslim kelas menengah perkotaan, yang haus akan informasi valid tentang dalil-dalil Al Qur'an. Pendekatan akademik memprasyaratkan penguasaan berbagai disiplin ilmu lain dalam cara-cara ceramahnya. Maksudnya, meski bertolak dari ilmu tafsir, baik Prof. Quraish maupun Prof. Nasaruddin Umar jelas sekali menguasai berbagai disiplin ilmu lain misal humaniora, ekonomi, politik, sosial, dll meski secara umum. Wawasan dan pemahaman lintas disiplin ilmu ini (pokok keempat) pentin...

NOVEL ADALAH FILM YANG TERTUNDA?

Film nyelonong  begitu saja di hadapan kita sebagai sesuatu yang bisa dicerap  piranti optik kita, sebagai mahluk berakal dan memiliki indera penglihatan. Oleh sebab itu, film sama tapi sekaligus berbeda dengan  jenis kesenian yang digolongkan sebagai  “visual art” seperti lukisan,  gambar, patung, dan juga potret. Berbeda dari jenis-jenis seni rupa lain, citra-citra visual dalam film disajikan selalu dalam pergerakan. Maksudnya,  jika sebuah film, sebut saja film Upin dan Ipin, menggambarkan manusia, penggambaran itu selalu dalam sebuah tindakan   yang berhubungan dengan gambar yang lain, singkatnya, citra-citra visual bukan semata  objek-objek yang diam belaka. Ipin  selalu digambarkan dalam interaksinya  dengan Upin dan  tokoh-tokoh lain, Jarjit, Ijat, Memei, Ihsan, Fizi, Kak Ros, Opa, Tuk Dalang juga  lainnya; Dalam kesendiriannya, Ipin bahkan selalu dalam pergerakan, paling tidak mengerenyitkan dahi menandakan bahwa b...

Bermain dengan Blues Rendra (Kompas 26/09/2010)

WS Rendra (1935-2009) adalah salah satu seniman paling sempurna dalam khazanah kesenian Indonesia. Kreativitas Rendra tampak ketika ia dengan berani melompati pagar definisi stanza dan blues. Kesempurnaan Rendra tecermin dalam tiga buku yang diterbitkan setelah ia wafat dan didedikasikan kepadanya. Pertama, Rendra: Ia Tak Pernah Pergi (Penerbit Buku Kompas, 2009); kedua, Rendra Berpulang (Burung Merak Press, 2009); dan ketiga, Stanza dan Blues. Buku ketiga ini berisi puisi-puisi yang diambil-pilih dari dua buku puisi Rendra, Empat Kumpulan Sajak (Pustaka Jaya, 1961) dan Blues untuk Bonnie (Pustaka Jaya, 1971). Rendra: Ia Tak Pernah Pergi adalah kumpulan tulisan tokoh-tokoh yang secara intensif mengamati kiprah Rendra dari awal hingga akhir kehidupannya, baik sebagai penyair, bintang film, dramawan, maupun sebagai kritikus sosial; Rendra Berpulang menghimpun tulisan para tokoh dan berita dari sejumlah media massa, dalam dan luar negeri, terkait kepulangan Rendra ke pangkuan ila...

Kwatrin Ringin Contong; Visi Maksimal Di Balik Puisi Minimal

Pengantar Buku kumpulan puisi Kwatrin Ringin Contong (Penerbit Miring dan Ar-Ruzz Media, 2014, selanjutnya disingkat KRC) menandai kembalinya Binhad Nurrohmat meramaikan panggung perpusian tanah air. Lewat  buku kumpulan puisi terbarunya ini Nurrohmat tampak  berupaya mengingatkan kembali arti penting “epik” dalam artikulasi estetis khususnya puisi. Nurrohmat terlanjur lekat dengan model puisi yang membabar aneka kawasan di mana nyaris tak seorang penyair pun mau dan mampu secara jujur, terbuka, dan percaya diri  menyelaminya; sebuah kawasan yang kerap dicitrakan sebagai liar, vulgar, jorok, dan menjijikan.  Walhasil, kehadiran KRC menjadi momentum kelahiran kembali puisi-puisi dari Nurrohmat dalam bentuk yang baru. Tapi, benarkah demikian? Untuk menjawab ini perlu ditelusuri kedudukan KRC di antara karya-karya Nurrohmat lainnya. Dari Kuda Ranjang ke Ringin Contong Beberapa buku kumpulan puisi yang sukses menempatkan penyair kelahiran Lampung 1 Janua...

Kasus First Travel Mengungkap Sisi Gelap Pencitraan

Citra serupa bahasa. Apa yang kelihatan dan terbaca, selalu merupakan tentang apa yang dengan sengaja dirahasiakan. Ketika Anda menampilkan/mencitrakan diri Anda di depan publik lewat foto atau video tertentu dengan harapan orang lain akan mengenal, mengetahui, dan menilai kehidupan Anda sesuai dengan apa yang tergambar terang di foto atau video tersebut, sesungguhnya Anda sedang merahasiakan bagian-bagian gelap dari kehidupan Anda. Masalahnya apa? Begini. Hidup di jagat pencitraan adalah hidup dalam jejaring kepura-puraan. Kehidupan yang berpusat pada "fantasmagoria." Menggantungkan apa yang disebut sebagai takdir pada komoditas dalam pengertian yang sangat luas, dan atau sebaliknya, menjangkarkan komoditas pada takdir. Semakin bersemangat Anda menikmati hidup dalam kepura-puraan, semakin dalam Anda masuk pada situasi kejiwaan yang rawan,  "pura-pura hidup," yang dicirikan oleh adanya  konflik batin terus-menerus dalam diri Anda. Anda kerepotan membedaka...