Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label flâneur

Flâneur Melayu Part IV (Melipat Kota dalam Kata-kata Perlawanan)

Mas Marco Inilah catatan yang saya janjikan, Melipat Kota dalam Kata-kata Perlawanan . Agar lebih mendekati apa yang saya maksudkan, pada judul yang terdengar ambisius dan bombastis ini kata “kata-kata” saya ubah menjadi “sajak-sajak.” Kata sajak, dan bukan puisi, saya pilih karena alasan sederhana sajak terkesan lebih bersahaja, klasik, dan menyiratkan sebuah ajakan bila dibandingkan dengan puisi yang sekarang kedengarannya koq lebih manja dan ganjen. Jangan tersinggung ya, Puisi. Catatan ini menjadi episode keempat dari catatan-catatan saya sebelumnya. Sengaja saya pakai istilah episode dengan harapan jumlah episode catatan-catatan saya mampu bersaing dengan jumlah episode Uttaran drama seri asal India yang bisa bikin ibu-ibu kesurupan secara terstruktur, sistematis dan massif jika sedang menyaksikan itu drama seri. ”Melipat Kota dalam Sajak-sajak Perlawanan” artinya menjadikan segala hal yang ada di kota sebagai pokok perkara sajak. Sajak perlawanan sendiri di mata saya ber...

Flâneur Melayu Part III

//Cari ilham di kafe dan mengembara ke Eropa/menulisnya bertahun-tahun di rumah mertua/dan belum tentu ada orang sudi membelinya// (Binhad Nurrohmat, Proses Kreatif) Rendra Rendra, sahabat. Untuk dirimu sebaris nama itu mungkin tak bermakna apa-apa kecuali enak dibaca dan didengar. Terkesan “macho,” toh? Bagi dirimu nama Rendra mungkin lebih mengingatkan pada nama anak dari pasangan selebriti papah dan mamah muda Dude Harlino dan Alyssa Soebandono yang juga memiliki nama panggilan Rendra. Sungguh sesuatu. Tapi, bagi yang terbiasa serius, atau pura-pura serius, dengan dunia kesenian khusunya teater dan puisi, Rendra lebih dari sekadar nama. Ia nyaris telah menjadi sebuah peristiwa budaya dalam artian namanya selalu dikutip dan disebut dalam setiap perbincangan tentang kesenian dalam arti seluas-luasnya. Sensasi nyaris sama akan mudah kita sua saat mendengar atau membaca sebaris nama ini; Pram. Mereka yang terbiasa mendengar dan membaca dua nama “keramat” Rendra dan Pr...

Flâneur Melayu Part II

Chairil Anwar Para sahabat dahsyat yang saya hormati. Catatan berikut ini adalah kelanjutan dari catatan saya sebelumnya yang berjudul “Flâneur Melayu.” Jika Anda merasa ada yang menggantung di tulisan tersebut artinya perasaan Anda sama dengan perasaan saya. Untuk menghindari “baper” berkelanjutan saya memutuskan untuk menulis catatan lanjutan dari tulisan saya terdahulu yang ditutup dengan mengutip puisi Chairil Anwar tahun 1943 Cerita, Kepada Darmawidjaja itu. Sepengetahuan saya Chairil Anwar termasuk salah seorang penyair yang puisi-puisinya membuka jalan bagi puisi-puisi yang menaruh hormat pada segala hal yang dianggap “kekinian.” Chairil Anwar adalah penyair yang tak hanya mahir memilih kata yang tepat untuk diucapkan di puisi-puisinya tapi lebih dari itu Chairil menulis puisi-puisinya dengan penuh gaya. Chairil adalah penyair kece. “Kekecean” puisi-puisi Chairil saya curiga bermuasal dari keyakinan dan kepercayaan dirinya pada gagasan-gagasan besar yang merasuki pikira...

Flâneur Melayu

Chairil Anwar Dirimu pernah ke Pasar Baru, Jakarta Pusat? Aneka barang dijual di sana loh , dari mulai alat musik, sepatu merk China yang legendaris, permadani, rupa-rupa busana, lensa kamera, alat kecantikan, batu akik dan lain sebagainya. Para pedangangnya juga macam-macam ada orang Betawi, Padang, keturunan Tionghoa, Arab, dan entah dari mana lagi. Bagi yang pernah ke Pasar Baru pasti paham dengan model bangunannya yang sangat menarik. Bangunan Pasar Baru jauh berbeda dengan pasar-pasar lain yang juga ada di Jakarta misalnya saja Pasar Rumput, Pasar Senen, Pasar Minggu, Pasar Kramatjati, Pasar Rebo, Pasar Mencos, apalagi Pasar Ciplak Pedurenan Masjid yang terancam tinggal nama. Bangunan Pasar Baru dari mulai pintu masuk utama sampai ujung pasar, dibuat melengkung hingga menghubungkan sisi kanan dan sisi kiri pasar yang di bawahnya dipakai para pedagang untuk memajang rupa-rupa dagangan. Dengan model bangunan melengkung, para pengunjung seolah sedang berada di dalam lorong...