Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Permainan Rock Klasik Gus Im dan Wiji Thukul

Ciputat awal tahun 2000an. Itu masa ketika saya masih menjadi pendengar setia    radio M97   FM yang berhaluan   rock klasik. Nyaris saban hari,   kuping   saya disesaki    lagu-lagu   Goodbye to Romance , Dreamer, No More Tears   (Ozzy Osboourne);   musik-musik megah dan bergemuruh   macam Kashmir , Achiles   Last Stand   (Led Zepppelin); Highway Star , Burn (Deep Purple); Another Brick in the Wall (Pink Floyd); dan   tak ketinggalan Mustafa Ibrahim dari Queen; Ada juga lagu-lagu   misterius yang membius seperti A Whiter Shade of    Pale (Procol Harum) Stairways to Heaven (Led Zeppelin), House of the Rising Sun (Animal) hingga   Litle Wing , Purple Haze , dan All Along the Watchtower (Jimi Hendrix); lagu yang disebut terakhir aslinya milik Bob Dylan tapi kalah kesohor   dari versi Jimi Hendrix. Masih banyak   lagu-lagu   yang kerap di putar di M97 FM   term...

Memahami Sikap Rendra Pada Barat (Kompas, 08 September 2013)

Berbeda dengan puisi-puisi para penyair Indonesia lain, sebut saja di antaranya Chairil Anwar, Sitor Situmorang, dan Subagyo Sastrowardoyo, puisi-puisi Rendra selain selalu memikat saat dibaca, juga terasa nikmat didengar. Musikalitas puisi-puisi Rendra merupakan akibat langsung dari pemahaman pragmatis Rendra ihwal kesenian yang merupakan medium bagi kesaksian pada kehidupan, termasuk unsur-unsur sosial budaya pembentuknya. Puisi-puisi Rendra memiliki lapisan-lapisan yang menyiratkan adanya pernegosiasian puisi dengan jenis-jenis ekspresi kesenian lain, semisal teater, prosa, dan musik. Negosiasi digelar sekadar untuk mengantisipasi adanya penguasaan bidang-bidang kesenian lain atas puisi. Walhasil, puisi-puisi Rendra selain selalu tampak bertenaga dan penuh warna, juga terdengar sangat melodius. Puisi-puisi Rendra senantiasa setia kepada irama. Dalam arti ini, puisi-puisi Rendra masih memiliki keserupaan corak dengan puisi-puisi Chairil Anwar seperti Derai-derai Cemara...

Sajak-Sajak Sunyi ; “Beriman” Tanpa Bermain-main

Cover Buku Puisi Sajak-Sajak Sunyi Kepada    Saudara Budhy Setyawan alias  Buset  yang baik , saya ucapkan selamat atas telah terbitnya buku kumpulan puisi Sajak-Sajak Sunyi ( Forum Sastra Bekasi dan  Pustaka Senja Yogyakarta , 2017) .   Bus y et banget! Itulah kesan pertama saya saat membaca  puisi-puisi Saudara .  Puisi-puisi Saudara  telah memaksa saya untuk mencoba mengulik   kreatifitas  macam apa yang  merasuki Saudara hingga Saudara  mampu menciptakan begitu banyak puisi  yang menyiratkan   hasrat  begitu menggebu-gebu pada laku pencarian rohaniah . Satu puisi   dari Saudara   ini   menurut saya cukup merefleksikan posisi kepenyairan Saudara, Rakaat Kerinduan Padamu seperti musafir lama aku menempuh petualangan usiaku tanpa peta dalam lumuran kabut dan temaram cuaca hanya berbekal bara keyakinan di rimbun sekam pencarian adalah se...

Kwatrin Ringin Contong; Visi Maksimal Di Balik Puisi Minimal

Pengantar Buku kumpulan puisi Kwatrin Ringin Contong (Penerbit Miring dan Ar-Ruzz Media, 2014, selanjutnya disingkat KRC) menandai kembalinya Binhad Nurrohmat meramaikan panggung perpusian tanah air. Lewat  buku kumpulan puisi terbarunya ini Nurrohmat tampak  berupaya mengingatkan kembali arti penting “epik” dalam artikulasi estetis khususnya puisi. Nurrohmat terlanjur lekat dengan model puisi yang membabar aneka kawasan di mana nyaris tak seorang penyair pun mau dan mampu secara jujur, terbuka, dan percaya diri  menyelaminya; sebuah kawasan yang kerap dicitrakan sebagai liar, vulgar, jorok, dan menjijikan.  Walhasil, kehadiran KRC menjadi momentum kelahiran kembali puisi-puisi dari Nurrohmat dalam bentuk yang baru. Tapi, benarkah demikian? Untuk menjawab ini perlu ditelusuri kedudukan KRC di antara karya-karya Nurrohmat lainnya. Dari Kuda Ranjang ke Ringin Contong Beberapa buku kumpulan puisi yang sukses menempatkan penyair kelahiran Lampung 1 Janua...