Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label binhad nurrohmat

Kuil Nietzsche; Reaksi Penyair Binhad Nurrohmat atas Nietzsche

Penyair Binhad Nurrohmat adalah   seorang penyimak   dan pembaca   yang   tekun. Segala hal coba dia amati, baca, pahami,   dan hayati. Hasil-hasil pembacaan, pemahaman, dan penghayatan itu kemudian dia tuangkan dalam   bait-bait puisi. Sejumlah buku puisi Binhad Nurrohmat dari Kuda Ranjang (2004), Bau Betina (2007), Demonstran Sexy (2008), Kwatrin Ringin Contong (2014), Kuburan Imperium (2019), Nisan Annemarie (2020), hingga Kuil Nietzsche (2020) merupakan   tanggapan kritis dan kreatif Binhad Nurrohmat atas   segala hal yang—setidaknya menurut dia sendiri—telah tuntas dia baca. Membaca adalah suatu kegiatan personal yang   penuh resiko. Dalam konteks karya seni, seorang pembaca dapat terhanyut dalam apa yang dibacanya hingga tak jarang si pembaca kerasukan dengan   apa yang dibacanya; bacaan, biasanya tanpa disadari, ikut membentuk cara berpikir, bersikap, berperasaan, hingga mengambil keputusan si pembaca. Anda adalah...

MEMBACA GERAK-GERIK NASIONALISME NUHAMMADIYAH

Setelah sukses dengan Dari Kiai Kampung ke NU Miring (Arruz Media, Yogyakarta, 2010) Sindikat Miring Nasional, yang dipelopori penyair Binhad Nurrohmat, kembali menerbitkan buku kedua yakni Nuhammadiyah Bicara Nasionalisme (disunting Binhad Nurrohmat dan Moh. Shofan, Arruz Media, Yogyakarta, 2011). Buku kumpulan tulisan ini berkehendak merumuskan dinamika hubungan antara ideologi negara dan agama dengan berpegang pada pemahaman bahwa nasionalisme memiliki daya adaptif dengan ajaran dan laku keagamaan terutama Islam.   Nuhammadiyah Bicara Nasionalisme memuat lima belas tulisan dari lima belas penulis yang tumbuh dan besar di lingkungan NU dan Muhammadiyah. Mewakili NU di antaranya Binhad Nurrohmat, Acep Zamzam Noor, Sahlul Fuad, Eyik Mustain Romly dan lain-lain. Sementara itu, Moh, Shofan, Zoly Qodir, David Krisna Alka, Sa’duddin Sabilurrasad dan lainnya mewakili Muhammadiyah. Dengan senantiasa menjadikan Muhammadiyan dan NU sebagai cakrawala berpikir dari masing-mas...

4 Kitab Sastra Indonesia dan 1 kajian tentangnya versi Andy Fuller

1.  Jazz,  Parfum, dan Insiden   (Ajidarma, 2002) Sebuah novel yang diterbitkan pada awal 1990an.Novel ini dipilih tidak saja karena ia merefleksikan secara naratif keadaan para korban dan saksi mata atas pembunuhan massal di Dili tapi juga merepresentasikan sebuah kritik literer atas metode-metode penyensoran yang diberlakukan oleh Soeharto sebagai pemimpin rezim Orde Baru (1996-1998).  Di samping itu novel ini juga mengkreasi ulang kenyataan fragmentaris dari pengetahuan dan pengalaman-pengalaman urban kontemporer lewat metode penarasian yang fragmentaris dan terpisah-pisah.