Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label film

Bergson Ogah Main Film

Sejak kemunculannya di peralihan abad 19 ke abad 20, film atau gambar bergerak, telah memicu ragam reaksi. Tak hanya dari kalangan awam yang cuma tahu asyiknya nonton film, tanggapan pada film juga muncul dari para seniman, teknokrat, birokrat, konglomerat, hingga ahli filsafat seperti pernah dialami oleh tokoh kita kali ini: Henri Bergson. Bergson yang hidup antara 1859-1914 di Paris, Prancis ini, bukan orang sembarangan. Meski di kalangan tertentu ia dikenal sebagai ahli filsafat yang pengaruhnya awet hingga kini lewat orang bernama Gillez Deleuze yang telah dengan sabar dan setia mengurai keruwetan pemikiran Bergson, khalayak justru lebih mengenal Bergson sebagai peraih nobel sastra pada 1928. Urusan Bergson dengan film bermula saat ia berpandangan, cara kerja film meniru praktik keseharian kita, terutama berkaitan dengan cara bagaimana kita memahami dan memaknai lingkungan sekitar. Contohnya kira-kira begini. Pagi tadi, sebelum sarapan, saya mengawali hari dengan bercakap-cak...

The MEG, Duel Jason Statham vs Megalodon.

Mengambil keputusan di saat genting selalu punya resiko. Sebaliknya, tak mengambil keputusan di saat darurat pun, resiko selalu mengintai. Saat bersamaan, hidup toh harus tetap dijalani. So, ambillah keputusan, hadapilah resikonya dengan rileks. Film-film laga Hollywood nyaris selalu bertumpu pada anggapan di atas termasuk di film terbaru Jason Statham, The Meg. Meg adalah singkatan dari Megalodon, seekor hiu purba raksasa. Meg agresif menyerang apa saja yang mengusik kenyamanannya di bagian terdalam perairan Tiongkok. The Meg menjadi sarana Jason membuktikan ketangguhannya. Ia seolah ingin terlihat tidak hanya jago di darat dan udara tapi juga di dasar laut. Karakter Jason yang dingin, maskulin, tanpa basa-basi, dan trengginas masih menjadi andalan utama di film The Meg. Ya, seperti sudah kehabisan lawan sepadan dari bangsa manusia, Jason kini melawan hiu buas. Cerita The Meg sebetulnya sederhana dan sering kita jumpai di film-film serupa. Jonas Taylor (Jason Statham) adal...

Film Wiro Sableng; Susahnya Merekayasa Kesablengan

Saat kesablengan digarap dengan keseriusan tingkat tinggi, ada dua kemungkinan sebagai hasil; pertama, semakin sableng dan kedua, semakin waras. Film Wiro Sableng (20th Century Fox Pictures & LifeLike Pictures, 2018) semakin sableng tidak, semakin waras pun tidak. Mungkin ada di antara sableng dan waras. Wiro Sableng, adalah pahlawan super bercita rasa nusantara. Lagaknya tengil, kurang waras, jago silat dan punya banyak ajian sakti, urakan tapi baik hati dan suka menolong. Karakter ini dengan susah payah coba dibangun lewat akting Vino G. Bastian. Menyimak alur cerita dan para tokohnya, film Wiro sepertinya adaptasi dari tiga novel Bastian Tito yaitu Empat Berewok dari Gua Sanggreng, Maut Bernyanyi di Pajajaran, dan Dendam Orang-orang Sakti. Wiro diselamatkan Eyang Sinto Gendeng (Ruth Marini) saat kampungnya diamuk gerombolan kejam pimpinan Mahesa Birawa (Kakak seperguruan Wiro, diperankan Yayan Ruhiyan). Orang tua Wiro (Happy Salma & Marcel Siahaan) dihabisi Mahesa ...

NOVEL ADALAH FILM YANG TERTUNDA?

Film nyelonong  begitu saja di hadapan kita sebagai sesuatu yang bisa dicerap  piranti optik kita, sebagai mahluk berakal dan memiliki indera penglihatan. Oleh sebab itu, film sama tapi sekaligus berbeda dengan  jenis kesenian yang digolongkan sebagai  “visual art” seperti lukisan,  gambar, patung, dan juga potret. Berbeda dari jenis-jenis seni rupa lain, citra-citra visual dalam film disajikan selalu dalam pergerakan. Maksudnya,  jika sebuah film, sebut saja film Upin dan Ipin, menggambarkan manusia, penggambaran itu selalu dalam sebuah tindakan   yang berhubungan dengan gambar yang lain, singkatnya, citra-citra visual bukan semata  objek-objek yang diam belaka. Ipin  selalu digambarkan dalam interaksinya  dengan Upin dan  tokoh-tokoh lain, Jarjit, Ijat, Memei, Ihsan, Fizi, Kak Ros, Opa, Tuk Dalang juga  lainnya; Dalam kesendiriannya, Ipin bahkan selalu dalam pergerakan, paling tidak mengerenyitkan dahi menandakan bahwa b...

Montage

Montage (sering dilafalkan montase, dari bahasa Prancis) adalah istilah teknis pembuatan film setelah proses syuting selesai dilakukan dan mulai masuk ruang editing. Montage mencakup beberapa tipe yaitu kontras, paralelisme, simbolisme, keserentakan, dan "leitmotif" (pengulangam tema). Maksudnya kira-kira begini. Dari sudut seorang pembuat film, ketika menghadapi beberapa gambar berbeda, yang diperlukan kemudian adalah cara bagaimana gambar-gambar tersebut disejajarkan, "dijembreng,"  serta terikat menjadi satu kesatuan menjadi narasi film. Cara ini ditempuh  tak lain demi menghadirkan efek psikologis tertentu pada penonton misalnya sedih, bergairah, gembira, murung, takut, marah, galau dan lainnya; dalam kata-kata Pudovkin montage merupakan "metode yang mengendalikan 'panduan psikologis' bagi penonton."  Tipe-tipe montage yang telah disebut di awal tulisan dapat disebut sebagai, katakan prinsip, bagi sebuah penyatuan gambar-gambar dalan ...