Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label philosophy

Rousseau Tidak Suka Rusuh

J.J Rousseau (courtesy:www.wikipedia,com) Pernahkah dirimu merasa pengetahuan dan atau informasi yang kamu punya, tanpa kamu sadari, ternyata membatasi ruang gerakmu? Ambil contoh facebook yang saban hari kamu pantengin ini. Anggap facebook adalah sebuah lambang pergaulan sosial jaman kiwari. Dia yang tidak punya akun Fb akan dianggap terbelakang dan primitif. Setiap saat Fb memandumu. Menjadi kompas dalam kehidupan, menjadi pertimbangan utama dalam laku keseharian. Ada yang kosong di langit jiwa saat kamu sehari saja tidak log in ke Fb. Nun jauh di sana, seorang petani atau peternak kambing asyik dengan kesibukannya. Membajak sawah, mencari rumput untuk kambing, tidak mau pusing dengan hiruk pikuk yang berseliweran dari satu linimasa ke linimasa lainnya. Ibarat kata, petani kampung yang tak kenal Fb, hidupnya sederhana saja, seperti dinyanyikan Slank "asal ada babi untuk dipanggang// asal banyak ubi untuk kumakan// aku cukup senang// aku cukup senang// dan aku pun...

POSFENOMENOLOGI DAN KEMATIAN PARTIKULAR

Oleh Budi Hartanto (Pengaji Filsafat Teknologi) Don Ihde - (Sumber :  http://www.stonybrook.edu/complit/new/images/faculty/ihde.jpg ) Posfenomenologi adalah aliran dalam filsafat yang dikembangkan oleh Don Ihde seorang filsuf teknologi kontemporer. Sebuah filsafat yang menjelaskan tentang relasi pragmatis-eksistensialistis antara manusia sebagai tubuh dan dunia teknologi; yaitu ketika eksistensi manusia tidak lagi dapat kita maknai terbatas hanya pada tubuh dengan segala potensi panca inderanya saja, tapi juga berada pada moda relasi, mediasi, dan transparansi dengan teknologi. Posfenomenologi adalah pengembangan lebih lanjut fenomenologi Edmund Husserl dan khususnya fenomenologi Heidegger dan Maurice Merleu-Ponty. ( Selengkapnya )

KRISIS HIDUP BERBANGSA DAN KRISIS CARA BERPIKIR KITA, MERENUNG BERSAMA HUSSERL DAN HEIDEGGER (Bag. III Akhir)

Kita kini memilih tentang telpon genggam tipe apa yang hendak kita pilih. Telpon genggam, yang awalnya adalah  alat/sarana  itu kini telah menjadi totalitas horizon dunia-kehidupan kita yang darinya kita tidak dapat lepas. Bukan hanya sekadar soal telpon genggam, bahkan kualitas cara-berpikir kitapun tidak jauh berbeda dengan prosesor kecil di dalam telpon genggam kita sendiri. Cara-berpikir manusia modern secara khusus selalu dan terus-menerus terarahkan pada hal-hal yang itu-itu saja: praktikalitas, teknisitas, dan efisiensi. Pendangkalan-pembodohan kualitas cara-berada dan cara-berpikir manusia inilah yang menyebabkan kita tidak lagi dapat merasa akrab-intim dengan diri kita sendiri, dengan bangsa kita, dengan dunia kita.  Baca Selengkapnya

KRISIS HIDUP BERBANGSA DAN KRISIS CARA BERPIKIR KITA, MERENUNG BERSAMA HUSSERL DAN HEIDEGGER (Bag. II)

Namun demikian, dalam perspektif Husserl dan Heidegger, persis dalam hal sistem-metodologis itulah terletak akar permasalahannya. Dalam hal sistem cara-pandang metodologis itulah bermukim asal-usul (genesis) dari segala krisis yang mendera kehidupan manusia (bangsa-bangsa) modern. Dalam konteks pemahaman Husserl-Heidegger, konsep ‚sistem‘ terkait erat dengan kata ‚modern‘. Kata ‚modern‘ yang secara harfiah berarti bentuk-baru/kebaruan ( modere ), ternyata bermakna lebih dari sekadar kata-kata, sebab di dalam kata tersebut termuat suatu cara-pandang yang khas atas manusia dan dunia. Cara-pandang tersebut ternyata juga tidak tinggal sekadar sebagai sebuah cara-pandang, sebab di dalam cara-pandang tersebut bermukim gagasan atau bahkan program politik-kebudayaan tertentu yang perlahan-lahan mengeras menjadi sebuah pola pemahaman yang baku (ideologi).  Baca Selengkapnya

KRISIS HIDUP BERBANGSA DAN KRISIS CARA BERPIKIR KITA, MERENUNG BERSAMA HUSSERL DAN HEIDEGGER (Bag. I)

Oleh: Ito Prajna-Nugroho ( Pergerakan Kebangsaan ) Cobalah perhatikan arus informasi di media-media massa akhir-akhir ini. Segera kita dengar dan lihat berita tentang saling gebuk, saling injak, saling seruduk, saling memaki, saling makan di antara sesama orang yang sebetulnya disatukan oleh ikatan politik-spiritual yang sama: Nusantara (yang di zaman modern menjadi Republik Indonesia). Tetapi orang boleh-boleh saja meragukan kredibilitas media, sebab media massa tidak lain dari re-presentasi atau upaya menghadirkan kembali fakta-fakta yang  sudah terjadi. Baca Selengkapnya