Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Khudori husnan

SUSAN BOYLE, VIRALITAS, DAN PARADIGMA BARU MEDIA

Viral itu virus. Artinya,  viral itu bukan menyerupai virus, viral itu sendiri adalah virus setidaknya kalau dilihat dari akar katanya yang menurut beberapa literatur sama-sama berarti--dalam artinya yang arkhaik dan medik--sebagai penyakit atau wabah.  Apakah virus selamanya merugikan?  Bagi sebagian orang virus   akan dianggap sangat merugikan, misalnya saat  muncul berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus atau  ketika viral sejumlah expose dari warga via medsos tentang berbagai penyimpangan yang dilakukan aparatur negara yang seharusnya melindungi dan mengayomi warga malah membikin repot warga.  Dalam arti di atas, virus, meminjam lirik lagu Slank, bisa seperti  "api yang membakar hatimu" dan bisa "seperti  duri yang melukaimu." Tapi, virus juga bisa memberikan manfaat semisal untuk proses pembuatan vaksin yang berguna bagi  pengobatan pasien, yang sakit karena terinfeksi oleh virus tertentu.   Diskusi tentang virus...

Membidik B. Herry-Priyono Mengatasi Melankoli

Irony is the positive name which the melancholic gives to his solitude, his asocial choices. (Susan Sontag, Under the Sign of Saturn). Pengantar Di akhir 2017 atau mungkin 2018, saya lupa persisnya, sambil menenteng kamera saya mendatangi kampus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkaa Jakarta.  Selain ada  buka puasa bersama, di sana  digelar acara tutup semester untuk Mahasiswa S2, sekaligus perayaan ulang tahun  untuk sejumlah dosen  termasuk, seingat saya, Prof. Dr.Franz Magnis Suseno, SJ, (Romo Magnis)  Prof. Dr.  Kautsar Azhari Noer, Prof. Dr. J. Sudarminta, SJ,   Dr. Simon Petrus Lili Tjahjadi (Romo Lili), dan Dr. B. Herry-Priyono, SJ.  (selanjutnya disebut BHP). Berulang kali saya coba merekam gerak-gerik BHP, berkali-kali juga BHP selalu terlihat tidak nyaman,  gelisah dan berusaha menghindar.  Sikap berbeda diperlihatkan sejumlah dosen lain yang memilih cuek saat berkonfrontasi dengan kamera. Romo Lilil  bahkan ta...

Mencintai Kampung Halaman Melalui KH. Thobroni AG

H. Thobroni AG Saya lebih dulu mengenal namanya, ketimbang wujudnya. Nama beliau, H. Thobroni AG, atau Mang Thob sapaan akrabnya, selalu disebut-sebut di setiap percakapan antar kakak-kakak senior mahasiswa asal desa Bantarwaru, Ligung, Majalengka, yang sedang menempuh pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta termasuk di antaranya ialah Mang Muslih Aziz, Mang Atho Rahman (almarhum), teh Yayan Rohayani, dan kaka saya sendiri, Susilawati.  Dari setiap percakapan yang melibatkan nama Mang Thob, tersirat kesan sangat kuat  bahwa Mang Thob adalah figur yang selalu hadir di tengah-tengah kehidupan kakak-kakak senior yang sedang berjuang di perantauan, jauh dari kampung halaman, mengejar cita-cita dengan berkuliah. Mang Thob, sejauh yang saya dengar dari cerita-cerita para senior, selalu membantu kakak-kakak angkatan saya di UIN Syarif Hidyatullah itu, ketika kesusahan ekonomi, baik untuk uang perkuliahan maupun untuk keperluan sehari-hari. Mang Thob pun dengan sigap mencarikan...

Gus Dur dan Gejala Mendadak Islami

(Kompas, 19/12/2019) Sepak terjang generasi muda Islam dewasa ini  memerlihatkan gejala keberagamaan  yang unik. Percakapan antar mereka yang terrekam di ruang publik, utamanya  di media sosial, tak jauh dari persoalan  pemilahan tegas,  seringkali beringas,  antara “golongan kita” dan “golongan mereka.” Menariknya, jauh-jauh hari KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang wafat pada 30 Desember 2009 silam, memiliki pandangan tersendiri atas fenomena tersebut. Gairah besar generasi muda mendalami Islam  dan berkegiatan dengan menonjolkan tema-tema keislaman  tercermin dari membludaknya jumlah audiens,  baik untuk sebuah tayangan video yang menghadirkan penceramah tertentu  di jejaring sosial youtube, maupun di  tabligh-tabligh akbar di lapangan terbuka. Semangat besar ini   berbanding lurus dengan meriahnya jargon-jargon kearab-araban, yang seakan-akan  mencerminkan  nilai-nilai keislaman termasu...

Mudik Melawan Kebosanan

Mudik lebih dari sekadar kembali ke udik atau balik kampung jelang lebaran, setelah sekian lama hidup di perantauan. Mudik telah menjadi siasat bagi para perantau untuk bisa lolos dari perangkap kebosanan di tengah-tengah kesibukan. Kebosanan tanpa disadari telah menjadi momok menakutkan bagi manusia modern yang di keseharian tenggelam dalam rutinitas dan kebiasaan yang itu-itu saja.  Manusia modern berbeda dengan anak kecil yang karena kepolosannya begitu antusias memainkan mainan yang ia miliki. Seringkali, karena terlalu serius dengan mainannya ia mengabaikan kejadian-kejadian di sekitarnya, bahkan termasuk tak merasakan haus dan lapar dari dirinya sendiri. Si bocah akan beralih pada--atau merengek minta dibelikan--mainan baru saat ia sudah puas bermain-main dengan mainan lamanya. Tak ada celah bagi anak kecil untuk merasakan kebosanan. Hari-harinya dipenuhi antusiasme termasuk saat mereka menangis. Kebanyakan dari kita orang dewasa, memandang remeh kebosanan se...

Mengingat dan Memaafkan

Mengingat itu lucu.  Saat mengingat, orang sebetulnya sedang melupakan. Maksudnya, ketika orang mengingat sesuatu, misal rute ke rumah mantan pacar, secara serentak ia sebenarnya sedang melupakan rute ke tempat-tempat lain.  Kendati demikian, mengingat juga dapat menjadi sarana menyibak tabir asal-usul diri kita, lewat apa yang kita sebut memaafkan. Mengingat bersifat intensional, dalam artian hanya terarah pada satu titik yang diingat. Karena sifatnya yang "one way", saat mengingat tak ada celah bagi hadirnya objek lain untuk diingat.  Catatan atas apa-apa saja yang dianggap penting dan monumental dari masa ke masa, sebagian kalangan menyebutnya sebagai sejarah. Sebaliknya, yang tak tercatat, karena alasan-alasan tertentu, dianggap sebagai cerita belaka. Sejarah  bergerak dari keyakinan bahwa asal-usul merupakan sesuatu yang sudah lengkap, tak bisa ditambah dan dikurangi kecuali dimaknai secara terus-menerus. Pada cerita, narasi tentang asal usul ...

Mo, Maunya Apa Sih?

Temukan kata atau kalimat yang Anda anggap sebagai ide pokok tulisan, lalu tandai dengan stabilo dengan jenis warna yang telah Anda tentukan untuk jenis ide pokok tulisan. Ini salah satu pelajaran membaca yang saya dapat ketika belajar Metode Belajar dengan pengajar Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ alias Romo Magnis. Secuil  kiat membaca di atas akan saya coba operasikan pada tulisan Magnis tentang Golput (Kompas, 12/03/2019) yang belakang viral serta menimbulkan reaksi macam-macam dari para pendukung golput , ada yang lucu, serius, bahkan ada yang kalang kabut. Warna tulisan Magnis adalah tipikal warna-warni moralitas dan itu sudah ditegaskan Magnis di awal-awal ketika Magnis bilang kewajiban memilih bukan kewajiban hukum melainkan kewajiban moral. Walhasil, tulisan setelah bagian itu menjadi penuh sesak oleh istilah-istilah "baik", "kurang baik", "lebih baik", buruk", "nilai", dan seterusnya.  Kata-kata vulgar yang disebar Magnis...

Mengenang Jurnalis dan Novelis Majalengka Kang Ato

Kang Ato (paling kiri) Minggu 7 Oktober 2018, saya bertemu Kang Ato (Atho al Rahman) di ruangan HCU Rumah Sakit Siloam Karawaci; Kang Ato menjalani perawatan intensif di situ karena, kalau tidak salah menurut  keterangan keluarga,  ia menderita tumor. Pertemuan  dan percakapan saya dengan Kang Ato, yang ditemani istrinya, berlangsung sangat singkat, mungkin kurang dari lima menitan. Tapi, dari pertemuan sesingkat itu saya menangkap kesan, betapa Kang Ato sedang berusaha sekuat tenaga melawan rasa nyeri  yang teramat sangat. "Adoh pisan kang, Siloam." (Jauh banget kang, Siloam) Tanya saya membuka percakapan. "Iya, doy." Jawab Kang Ato dengan suara lemah, setelah cukup lama terdiam kerena kesulitan bernafas. Dalam hati saya bersyukur Kang Ato masih bisa mengenali saya. Ruang perawatan yang sangat terang membuat saya bisa melihat ke wajah Kang Ato yang  terlihat pucat tapi tetap berusaha menampilkan senyum ramah; sebuah kebiasaan Kang Ato saa...

ADA APA DI ALHAMBRA?

Ketakterdugaan yang konstan. Inilah saya kira yang menyebabkan tayangan-tayangan seperti 'Upin & Ipin,' 'Spongebob,' hingga  'Si Doel Anak Sekolahan' selalu enak dinikmati meski sudah berkali-kali ditonton. Ketakterdugaan yang konstan menyusup bahkan pada setiap lekuk peralihan adegan dari tayangan-tayangan tersebut hingga  tercipta apa yang disebut 'perpaduan  kenikmatan emosional dengan kenikmatan visual.'  Upin & Ipin tiba-tiba asyik bermain pesawat supercanggih kendati awalnya mereka sekadar bermain sepeda roda dua; Saat Spongebob terserang flu, Patrick tergopoh-gopoh menemui Spongebob di rumah nanasnya lantas  menyumbat tiap lubang yang ada pada 'tubuh kotak' sobatnya itu; Bang Mandra yang buta huruf dan gondrong diusianya yang menginjak usia belasan tanpa canggung mengenakan  seragam  merah putih dan gigih belajar membaca dengan cara mengeja khas murid kelas 1 SD. Ketakterdugaan yang konstan  tak hanya berl...

KATEGORI PENULIS MENURUT EZRA POUND

Berikut ini beberapa wawasan menarik tentang sastra, karya sastra, peran dan posisi penulis juga pembaca menurut salah seorang penyair besar dan kritikus sastra Ezra Pound yang saya terjemahkan secara bebas dari karyanya A B  C  of Reading yang terbit pertama kali pada 1934. Saat Anda memulai pencarian akan “unsur-unsur murni” dalam sastra Anda akan menemukan pemahaman bahwa sastra diciptakan oleh sosok-sosok yang termasuk ke dalam golongan-golongan berikut (1) para penemu yaitu seseorang yang menemukan sebuah proses penciptaan baru, atau sesiapa yang  karya-karyanya  secara luas memberi kita pemahaman ihwal contoh pertama dari sebuah proses penciptaan; (2) para guru  yaitu seseorang yang menggabungkan sejumlah proses penemuan serta menggunakan proses-proses tersebut sebagus bahkan lebih bagus daripada yang dilakukan para penemu sendiri; (3)  para pengencer  yaitu seseorang yang muncul setelah dua golongan pertama (penemu dan guru-red). Para p...