Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Rendra

Wajah Janus Puisi-Puisi Berto Tukan Tentang Buku Puisi aku mengenangmu dengan pening yang butuh panadol (Bagian Pertama)

Pengantar Banyak hal mengherankan   d i   kehidupan sehari-hari warga   kota, khususnya Jakarta ; orang Jakarta kerap menyebut   mereka   yang baru tiba di Jakarta dari daerah-daerah tertentu di   Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Tengah   dengan sebutan   orang Jawa,   padahal, Jakarta sendiri berada di Pulau Jawa.   Di sini Jakarta   terkesan tampil    sebagai bagian   sekaligus bukan bagian dari Pulau Jawa. Contoh   lain,   saat   kondangan   di acara nikahan di beberapa daerah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi,   salah satu kecemasan   yang kerap menghantui   sebagian para tamu undangan adalah kesamaan   gaya busana dan aksesoris yang dipakai   dengan busana yang dipakai tamu undangan lain.   Di acara pernikahan, tetamu    biasanya selalu ingin tampil beda, rapi,   dan modern, dalam arti mengenakan busana dan aksesoris yang tak ket...

Memahami Sikap Rendra Pada Barat (Kompas, 08 September 2013)

Berbeda dengan puisi-puisi para penyair Indonesia lain, sebut saja di antaranya Chairil Anwar, Sitor Situmorang, dan Subagyo Sastrowardoyo, puisi-puisi Rendra selain selalu memikat saat dibaca, juga terasa nikmat didengar. Musikalitas puisi-puisi Rendra merupakan akibat langsung dari pemahaman pragmatis Rendra ihwal kesenian yang merupakan medium bagi kesaksian pada kehidupan, termasuk unsur-unsur sosial budaya pembentuknya. Puisi-puisi Rendra memiliki lapisan-lapisan yang menyiratkan adanya pernegosiasian puisi dengan jenis-jenis ekspresi kesenian lain, semisal teater, prosa, dan musik. Negosiasi digelar sekadar untuk mengantisipasi adanya penguasaan bidang-bidang kesenian lain atas puisi. Walhasil, puisi-puisi Rendra selain selalu tampak bertenaga dan penuh warna, juga terdengar sangat melodius. Puisi-puisi Rendra senantiasa setia kepada irama. Dalam arti ini, puisi-puisi Rendra masih memiliki keserupaan corak dengan puisi-puisi Chairil Anwar seperti Derai-derai Cemara...

Bermain dengan Blues Rendra (Kompas 26/09/2010)

WS Rendra (1935-2009) adalah salah satu seniman paling sempurna dalam khazanah kesenian Indonesia. Kreativitas Rendra tampak ketika ia dengan berani melompati pagar definisi stanza dan blues. Kesempurnaan Rendra tecermin dalam tiga buku yang diterbitkan setelah ia wafat dan didedikasikan kepadanya. Pertama, Rendra: Ia Tak Pernah Pergi (Penerbit Buku Kompas, 2009); kedua, Rendra Berpulang (Burung Merak Press, 2009); dan ketiga, Stanza dan Blues. Buku ketiga ini berisi puisi-puisi yang diambil-pilih dari dua buku puisi Rendra, Empat Kumpulan Sajak (Pustaka Jaya, 1961) dan Blues untuk Bonnie (Pustaka Jaya, 1971). Rendra: Ia Tak Pernah Pergi adalah kumpulan tulisan tokoh-tokoh yang secara intensif mengamati kiprah Rendra dari awal hingga akhir kehidupannya, baik sebagai penyair, bintang film, dramawan, maupun sebagai kritikus sosial; Rendra Berpulang menghimpun tulisan para tokoh dan berita dari sejumlah media massa, dalam dan luar negeri, terkait kepulangan Rendra ke pangkuan ila...

Kwatrin Ringin Contong; Visi Maksimal Di Balik Puisi Minimal

Pengantar Buku kumpulan puisi Kwatrin Ringin Contong (Penerbit Miring dan Ar-Ruzz Media, 2014, selanjutnya disingkat KRC) menandai kembalinya Binhad Nurrohmat meramaikan panggung perpusian tanah air. Lewat  buku kumpulan puisi terbarunya ini Nurrohmat tampak  berupaya mengingatkan kembali arti penting “epik” dalam artikulasi estetis khususnya puisi. Nurrohmat terlanjur lekat dengan model puisi yang membabar aneka kawasan di mana nyaris tak seorang penyair pun mau dan mampu secara jujur, terbuka, dan percaya diri  menyelaminya; sebuah kawasan yang kerap dicitrakan sebagai liar, vulgar, jorok, dan menjijikan.  Walhasil, kehadiran KRC menjadi momentum kelahiran kembali puisi-puisi dari Nurrohmat dalam bentuk yang baru. Tapi, benarkah demikian? Untuk menjawab ini perlu ditelusuri kedudukan KRC di antara karya-karya Nurrohmat lainnya. Dari Kuda Ranjang ke Ringin Contong Beberapa buku kumpulan puisi yang sukses menempatkan penyair kelahiran Lampung 1 Janua...

ADA APA DI ALHAMBRA?

Ketakterdugaan yang konstan. Inilah saya kira yang menyebabkan tayangan-tayangan seperti 'Upin & Ipin,' 'Spongebob,' hingga  'Si Doel Anak Sekolahan' selalu enak dinikmati meski sudah berkali-kali ditonton. Ketakterdugaan yang konstan menyusup bahkan pada setiap lekuk peralihan adegan dari tayangan-tayangan tersebut hingga  tercipta apa yang disebut 'perpaduan  kenikmatan emosional dengan kenikmatan visual.'  Upin & Ipin tiba-tiba asyik bermain pesawat supercanggih kendati awalnya mereka sekadar bermain sepeda roda dua; Saat Spongebob terserang flu, Patrick tergopoh-gopoh menemui Spongebob di rumah nanasnya lantas  menyumbat tiap lubang yang ada pada 'tubuh kotak' sobatnya itu; Bang Mandra yang buta huruf dan gondrong diusianya yang menginjak usia belasan tanpa canggung mengenakan  seragam  merah putih dan gigih belajar membaca dengan cara mengeja khas murid kelas 1 SD. Ketakterdugaan yang konstan  tak hanya berl...