Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sindhunata

Menalar Sindhunata dari Pojok Sindhu Sekoel

Sebelum menyukai tulisan-tulisannya, yang kata Jakob Oetama seperti "berdesak-desakan, berkeringat, dan berurai air mata", saya lebih dulu terkesan dengan nama penulisnya:   Sindhunata. Kendati tak tahu persis apa arti dari nama tersebut,   nama Sindhunata menarik   perhatian saya karena secara kebahasaan seperti ingin   menyelaraskan dua unsur yang terdengar bertentangan. Pokok perkaranya ada   pada   huruf “u” dan “a” di nama Sindhunata. Huruf “u” yang mengekspresikan suasana minor, sendu sedan dan kegelisahan disejajarkan dengan huruf “a” yang merefleksikan suasana mayor yang ceria, gembira, kasmaran   dan berpengharapan. Penyejajaran dan penggabungan huruf “u” dan “a” dalam kata Sindhunata, jika dibaca akan membentuk satu-kesatuan kata yang   puitik dan enak didengar. Dari sebaris nama Sindhunata, kita bisa menarik suatu pandangan   bahwa di setiap suka selalu   menyusup duka dan di setiap duka kerap terselip suka.   Keb...

Pribumi yang Tertukar

Heboh terma usang "pribumi" yang diremajakan kembali  lewat mulut  Gubernur DKI Jakarta terpilih di pidato pertamannya, membuat saya  terkenang mendiang Dick Hartoko. Bukan. Bukan pada  pemikiran humanioranya yang bersahaja tapi pada tulisan sangat menyentuh hati dari Sindhunata terkait detik-detik terakhir mangkatnya budayawan besar, penjaga  rubrik legendaris “Tanda-Tanda Zaman” majalah kebudayaan "Basis." Salah satu bagian paling menarik dari tulisan Sindhunata yang entah kenapa selalu susah saya lupakan itu ialah ketika Sindhunata mengidentifikasikan atau menyejajarkan riwayat hidup dirinya dengan Dick Hartoko terkait masalah identitas,  silsilah  dan atau keturunan.  Dick Hartoko berdarah campuran Jawa - Belanda sedangkan   Sindhunata sendiri  berdarah Tionghoa - Jawa. Sindhunata menuliskan bagaimana ketegangan batin terus menerus menghantui dan menggelisahkan Dick Hartoko sepanjang hidupnya. Di nyaris setiap pergaulan...

Olala ola olahie - Sindhunata

21 Mei 2017 Leo Kristri berpulang. Untuk mengenang almarhum berikut ini adalah tulisan Sindhunata di Harian Umum Kompas, 22 Agustus 1979. Selamat membaca.  Leo Kristi mengenangkan masa kecilnya. Ia teringat Pak Man, tetangganya seorang gelandangan di belakang rumahnya, yang bekerja sebagai penarik becak bila malam tiba. Tetangga sekitar tak menyukai Pak Man karena ia dikenal juga sebagai tukang jambret. Namun, Pak Man amat baik terhadap keluarga Leo. Seringkali Ibu Leo memberi makan kepadanya. Suatu hari Leo diajak Pak Man beli cengkerik di Pasar Kranggan. Leo dibopong Pak Man untuk memilih cengkerik yang ia senang. Tiba-tiba seorang teman Pak Man menjambret lampu sepeda. Leo tahu semuanya ini hanya alasan Pak Man. Pak Man berusaha memalingkan perhatian para pembeli cengkerik dengan membopong-bopong Leo supaya temannya mempunyai kesempatan untuk menjalankan operasi kilatnya. Leo langsung minta pulang. Pengalaman itu ternyata memberi kesan mendalam buat Leo ketika ia mulai ...