Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label penyair

Teman Kayak Pacaran (TKP) Penyair dan Tradisi Part II

Di catatan sebelum ini, ke hadapan Anda saya sajikan beberapa puisi dari Malkan Junaidi yang terkumpul di buku kumpulan puisi “Di Bawah Cahaya yang Terpancar dari Ingatan Terhadapmu”, yaitu “Ingatan Terhadapmu,” “Esai tentang Puisi,” dan “Chairil Anwar telah Runtuh.” Tiga puisi di atas cukup mengesankan karena berhasil menunjukkan tak hanya posisi kepenyairan Malkan Junaidi tapi lebih dari pada itu ketiga puisi nenyiratkan adanya pemaknaan atas hubungan antara seniman, khususnya penyair, dengan apa yang dikenal sebagai tradisi. Budi Darma di salah satu karangannya yang berjudul “Para Pencipta Tradisi” (dalam “Solilokui Kumpulan Esei Sastra,” Gramedia, 1984, hal 6 s.d 10) menulis begini; “Pengarang yang baik adalah pengarang yang dapat menciptakan tradisi. Tapi tunggu dulu. Untuk dapat menciptakan tradisi, seorang pengarang tentu mempunyai gagasan yang orisinal. Ketahuilah, tradisi hanya dapat dicipta dengan gagasan-gagasan demikian. Kecuali itu, pengarang ini juga mempunyai kepr...

Teman Kayak Pacaran (TKP) Penyair dan Tradisi

Saya mendapat buku baru Di Bawah Cahaya yang Terpancar dari Ingatan Terhadapmu (Indie Book Corner, Jogjakarta, 2016), sebuah kumpulan puisi dari seorang penyair bernama Malkan Junaidi. Di bagian-bagian ujung buku yang tertera foto diri si penyair, Malkan menulis antara lain “buku puisi pertamanya ‘Lidah Bulan’ terbit tahun 2011. Satu dua puisinya bisa ditemukan di antologi bersama, antara lain ‘Cinta Gugat’ (Sastra Reboan, 2013); ‘Menulis Puisi Lagi’ (Majelis Sastra Bandung, 2015). Sebuah esainya dimuat di bunga rampai ‘Jimat NU’ (Ar Ruz Media 2014. Sekarang tinggal di Blitar dan bekerja sebagai petani.” Itu secuil bagian akhir buku Di Bawah Cahaya yang Terpancar dari Ingatan Terhadapmu . Secuil lagi saya cuplik dari bagian-bagian awal. Bagian awal ini perlu saya cuplik karena unik dan oleh karenanya ingin saya kulik lebih jauh. Bagian itu berbunyi “Tak ada kebaruan. Semua tulisan saya, terutama dari segi bentuk, hanyalah keterpengaruhan oleh para penulis yang melingkungi saya; h...

MALAM MAGIS DI REBOAN

W.S Rendra (ist) Puluhan orang, dari berbagai latar belakang, kebanyakan pelaku dan penikmat seni,   Rabu 29 Mei 2013 menyesaki Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan Blok M Jakarta Selatan. Di hari itu   komunitas Sastra Reboan menghelat acara peluncuran buku kumpulan puisi almarhum W.S Rendra “doa untuk anak cucu” (Penerbit Bentang, 2013).   Rangkaian a cara tak hanya berisi pembacaan puisi, musikalisasi puisi, serta senandung tembang tapi juga bincang buku yang menghadirkan Ken Zuraida, istri almarhum Rendra, sebagai salah seorang nara sumber. Dipandu penyair Setiyo Bardono dan musikus Brandjangan acara dibuka setelah Zay Lawanglangit selaku ketua komunitas Sastra Reboan memberi kata sambutan. Usai Zay Lawanglangit memberi sambutan susul-menyusul mata acara digelar. Laila Uliel maju pertama membaca puisi. Gadis berkerudung itu sukses membawakan puisi Rendra yang bait pertamanya berbunyi Hujan lebat turun di hulu subur/ disertai angin gemuruh/ yang ...