Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Chairil

Flâneur Melayu Part II

Chairil Anwar Para sahabat dahsyat yang saya hormati. Catatan berikut ini adalah kelanjutan dari catatan saya sebelumnya yang berjudul “Flâneur Melayu.” Jika Anda merasa ada yang menggantung di tulisan tersebut artinya perasaan Anda sama dengan perasaan saya. Untuk menghindari “baper” berkelanjutan saya memutuskan untuk menulis catatan lanjutan dari tulisan saya terdahulu yang ditutup dengan mengutip puisi Chairil Anwar tahun 1943 Cerita, Kepada Darmawidjaja itu. Sepengetahuan saya Chairil Anwar termasuk salah seorang penyair yang puisi-puisinya membuka jalan bagi puisi-puisi yang menaruh hormat pada segala hal yang dianggap “kekinian.” Chairil Anwar adalah penyair yang tak hanya mahir memilih kata yang tepat untuk diucapkan di puisi-puisinya tapi lebih dari itu Chairil menulis puisi-puisinya dengan penuh gaya. Chairil adalah penyair kece. “Kekecean” puisi-puisi Chairil saya curiga bermuasal dari keyakinan dan kepercayaan dirinya pada gagasan-gagasan besar yang merasuki pikira...

Flâneur Melayu

Chairil Anwar Dirimu pernah ke Pasar Baru, Jakarta Pusat? Aneka barang dijual di sana loh , dari mulai alat musik, sepatu merk China yang legendaris, permadani, rupa-rupa busana, lensa kamera, alat kecantikan, batu akik dan lain sebagainya. Para pedangangnya juga macam-macam ada orang Betawi, Padang, keturunan Tionghoa, Arab, dan entah dari mana lagi. Bagi yang pernah ke Pasar Baru pasti paham dengan model bangunannya yang sangat menarik. Bangunan Pasar Baru jauh berbeda dengan pasar-pasar lain yang juga ada di Jakarta misalnya saja Pasar Rumput, Pasar Senen, Pasar Minggu, Pasar Kramatjati, Pasar Rebo, Pasar Mencos, apalagi Pasar Ciplak Pedurenan Masjid yang terancam tinggal nama. Bangunan Pasar Baru dari mulai pintu masuk utama sampai ujung pasar, dibuat melengkung hingga menghubungkan sisi kanan dan sisi kiri pasar yang di bawahnya dipakai para pedagang untuk memajang rupa-rupa dagangan. Dengan model bangunan melengkung, para pengunjung seolah sedang berada di dalam lorong...

Kwatrin Ringin Contong; Visi Maksimal Di Balik Puisi Minimal

Pengantar Buku kumpulan puisi Kwatrin Ringin Contong (Penerbit Miring dan Ar-Ruzz Media, 2014, selanjutnya disingkat KRC) menandai kembalinya Binhad Nurrohmat meramaikan panggung perpusian tanah air. Lewat  buku kumpulan puisi terbarunya ini Nurrohmat tampak  berupaya mengingatkan kembali arti penting “epik” dalam artikulasi estetis khususnya puisi. Nurrohmat terlanjur lekat dengan model puisi yang membabar aneka kawasan di mana nyaris tak seorang penyair pun mau dan mampu secara jujur, terbuka, dan percaya diri  menyelaminya; sebuah kawasan yang kerap dicitrakan sebagai liar, vulgar, jorok, dan menjijikan.  Walhasil, kehadiran KRC menjadi momentum kelahiran kembali puisi-puisi dari Nurrohmat dalam bentuk yang baru. Tapi, benarkah demikian? Untuk menjawab ini perlu ditelusuri kedudukan KRC di antara karya-karya Nurrohmat lainnya. Dari Kuda Ranjang ke Ringin Contong Beberapa buku kumpulan puisi yang sukses menempatkan penyair kelahiran Lampung 1 Janua...