Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label CakNur

Belajar menjadi Penceramah (3)

"Jagalah hati, jangan kau nodai. Jagalah hati lentera hidup ini". sebait syair ini identik dengan K.H Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Bintang ceramah selanjutnya. Mengusung pendekatan manajemen qalbu ceramah-ceramah Aa sangat meneduhkan. Tema-tema sufistik dikemas secara modern dan disampaikan dengan cara-cara yang menyentuh hati serta kisah-kisah inspiratif. Menyelipkan kisah-kisah inspiratif juga menjadi salah satu kunci sukses ceramah para motivator.  Baik berkaitan dengan kisah pribadi, cerita orang lain, riwayat tokoh-tokoh penting dalam lintasan sejarah atau bahkan mungkin ada di antaranya hasil karangan bebas. Kisah-kisah ini diketengahkan tak lain dengan maksud untuk meyakinkan audiens. Gaya ceramah Aa disebut-sebut menyerupai gaya ceramah dedengkot  Muhammadiya Buya Hamka, penulis salah satu buku paling laris Tasawuf Modern. Di buku karangan Buya Hamka itu, topik-topik penting ilmu tasawuf dikemas secara populer dan dikaitkan dengan kondisi kejiwaan ...

Setelah Haul Cak Nur

Semalam (30/08) ikut hadir di acara Haul Cak Nur.  Sampai di TKP bakda Isya saya tak langsung masuk tapi duduk-duduk dulu di beranda sambil menghisap sebatang rokok setelah dapat korek dari Fachrurozi Majid. Kawasan Ampera sudah gelap sekali. Selang beberapa menit kemudian berurutan datang Kang Yudi Latif naik F**ner,  ibu Shinta Abdurrahman Wahid naik sedan hitam didampingi beberapa Paspampres, dan para pengunjung lain. Saya pun masuk. Oiya sebelum masuk saya lihat Ulil meninggalkan acara dipapah istrinya, katanya beliau sedang sakit. Semoga cepat sembuh. Saya ketemu beberapa kawan orang batak yang besar dalam buaian Jogjakarta, H. Simarmata, Filosof Betawi Sunaryo, aktivis HMI Slank dan Deni Agusta, ada juga “The Prophet of Workers” Ismail Fahmi, dan masih banyak lagi teman saya ha ha hi hi malam itu.  Di ruangan utama, tokoh-tokoh penting sedang memberi kesaksian tentang almarhum Cak Nur; pak Try, ibu Musdah yang bicara tentang cara Cak Nur ngajar dan sela...

Cinta Mati Cholish dan Omi

Nurcholis Madjid  alias Cak Nur, salah seorang intelektual muslim paling terkemuka Indonesia yang  wafat pada 29 Agustus 2005  karen penyakit sirosis atau kanker hati itu, biasa memanggil Omi pada istri tercintanya Omi Komaria Madjid. Cholish adalah panggilan untuk Cak Nur saat ia masih remaja. Membaca  buku Hidupku Bersama Cak Nur, Catatan Omi Komaria Madjid   (Nurcholish Madjid Society; 2015) adalah membaca kisah cinta dan kesetiaan dalam artiannya yang sangat menyeluruh  mencakup cinta   seorang pria pada wanita, cinta dan bakti anak pada kedua orang tua, cinta pada sesama manusia, cinta pada agama, hingga cinta pada tanah air. Tapi, buku ini tak melulu  bertutur tentang cinta. Buku ini  juga menghadirkan  percikan pemikiran Cak Nur yang lekat dengan gagasan-gagasan besar seputar keislaman, kemodernan, dan terutama adalah keindonesiaa. Di halaman 59 – 60  misalnya, Omi terkenang  sepucuk surat cinta dari Cak Nu...