Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label media sosial

SUSAN BOYLE, VIRALITAS, DAN PARADIGMA BARU MEDIA

Viral itu virus. Artinya,  viral itu bukan menyerupai virus, viral itu sendiri adalah virus setidaknya kalau dilihat dari akar katanya yang menurut beberapa literatur sama-sama berarti--dalam artinya yang arkhaik dan medik--sebagai penyakit atau wabah.  Apakah virus selamanya merugikan?  Bagi sebagian orang virus   akan dianggap sangat merugikan, misalnya saat  muncul berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus atau  ketika viral sejumlah expose dari warga via medsos tentang berbagai penyimpangan yang dilakukan aparatur negara yang seharusnya melindungi dan mengayomi warga malah membikin repot warga.  Dalam arti di atas, virus, meminjam lirik lagu Slank, bisa seperti  "api yang membakar hatimu" dan bisa "seperti  duri yang melukaimu." Tapi, virus juga bisa memberikan manfaat semisal untuk proses pembuatan vaksin yang berguna bagi  pengobatan pasien, yang sakit karena terinfeksi oleh virus tertentu.   Diskusi tentang virus...

PILPRES DAN SIRKULASI KEBENCIAN DI MEDIA SOSIAL

Bagaimana bisa seseorang, laki-laki dan atau perempuan, yang dulu terkenal  alim dan lembut bisa sangat brangasan dan seperti kesetanan saat mendukung dan membela calon presidennya di media sosial? Alfred Adler, salah seorang ahli ilmu jiwa terkemuka, termasuk orang yang paling intens menyelidiki masalah motivasi di balik dorongan agresif dalam diri manusia. Dalam menelaah masalah dorongan agresif, Adler memulai dengan memeriksa masalah inferioritas atau perasaan rendah diri manusia. Menurut Alfred Adler, setiap bayi yang lahir telah memikul perasaan rendah diri atau inferior karena dipicu ketidakmampuan;  misal saat bayi tak mampu melakukan apa yang dikerjakan orang dewasa. Kehidupan seseorang adalah perjuangan mengatasi masalah rendah diri. Hidup seseorang selalu dalam perjuangan menjadi sempurna atau superior dalam artian selalu berkeinginan memenuhi bakat atau potensi yang dimiliki alias selalu ingin mewujudkan mimpi-mimpinya. Masalahnya,  tidak...

Siaga Wacana

Gerak-gerik teman-teman Fb saya ini menarik. Satu wacana yang terlempar dari status satu dan beberapa teman, seketika mendapat tanggapan dari beberapa teman lainnya. Begitu dan begitu terus, tak pernah berhenti. Misal, beberapa teman lewat statusnya secara bertubi-tubi memromosikan khilafah, menyerukan boikot terhadap produk-produk Amerika dan Israel, nyinyir lahir batin pada pemerintah karena tokoh idolanya kalah di Pemilu, hingga menyebarkan kata-kata mutiara b erbasis syari'ah. Nah, status-status model di atas pada waktu nyaris bersamaan, langsung mendapat tanggapan kontra atau anti dari teman-teman Fb lainnya; baik lewat "meme" lucu maupun catatan panjang lengkap dengan daftar pustaka. Menariknya, antara teman-teman pemilik satu wacana dengan wacana lain seringkali tak saling kenal. Tapi, meski begitu, di antara mereka seperti ada kesepakatan diam-diam untuk berkewajiban saling melempar wacana tanpa jeda dan tanpa kenal lelah. Fb pun menjelma medan kontest...