Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label wiji thukul

Wajah Janus Puisi-Puisi Berto Tukan Tentang Buku Puisi aku mengenangmu dengan pening yang butuh panadol (Bagian Pertama)

Pengantar Banyak hal mengherankan   d i   kehidupan sehari-hari warga   kota, khususnya Jakarta ; orang Jakarta kerap menyebut   mereka   yang baru tiba di Jakarta dari daerah-daerah tertentu di   Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Tengah   dengan sebutan   orang Jawa,   padahal, Jakarta sendiri berada di Pulau Jawa.   Di sini Jakarta   terkesan tampil    sebagai bagian   sekaligus bukan bagian dari Pulau Jawa. Contoh   lain,   saat   kondangan   di acara nikahan di beberapa daerah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi,   salah satu kecemasan   yang kerap menghantui   sebagian para tamu undangan adalah kesamaan   gaya busana dan aksesoris yang dipakai   dengan busana yang dipakai tamu undangan lain.   Di acara pernikahan, tetamu    biasanya selalu ingin tampil beda, rapi,   dan modern, dalam arti mengenakan busana dan aksesoris yang tak ket...

Permainan Rock Klasik Gus Im dan Wiji Thukul

Ciputat awal tahun 2000an. Itu masa ketika saya masih menjadi pendengar setia    radio M97   FM yang berhaluan   rock klasik. Nyaris saban hari,   kuping   saya disesaki    lagu-lagu   Goodbye to Romance , Dreamer, No More Tears   (Ozzy Osboourne);   musik-musik megah dan bergemuruh   macam Kashmir , Achiles   Last Stand   (Led Zepppelin); Highway Star , Burn (Deep Purple); Another Brick in the Wall (Pink Floyd); dan   tak ketinggalan Mustafa Ibrahim dari Queen; Ada juga lagu-lagu   misterius yang membius seperti A Whiter Shade of    Pale (Procol Harum) Stairways to Heaven (Led Zeppelin), House of the Rising Sun (Animal) hingga   Litle Wing , Purple Haze , dan All Along the Watchtower (Jimi Hendrix); lagu yang disebut terakhir aslinya milik Bob Dylan tapi kalah kesohor   dari versi Jimi Hendrix. Masih banyak   lagu-lagu   yang kerap di putar di M97 FM   term...