Langsung ke konten utama

Postingan

Hamsad Rangkuti dan Dua Cerpennya

Hamsad Rangkuti adalah salah satu penulis cerita pendek terbaik dan otentik. Ia, satu dari sedikit cerpenis kita yang mau dan mampu merumuskan pertanggungjawaban kepengarangannya secara cerdas dan tangkas. Ia cuplik satu fragmen kecil tentang dan dari  kehidupan sehari-hari lalu menuangkannya dalam sebuah Cerpen yang mengesankan. Cerpennya relatif tak berurusan dengan perkara-perkara besar dalam peta besar pemikiran misal menyangkut ideologi besar, pertentangan adat, kesamaan hak, atau lainnya.  Tapi, kendati demikian di balik cerpen-cerpennya yang sederhana tersirat begitu banyak suara, membuka peluang aneka tafsir. "Malam Takbir" (1993), "Reuni" (1994) keduanya di dalam buku "Kurma, Kumpulan Cerpen Puasa-Lebaran Kompas" (Kompas:2002) adalah Cerita pendek yang unik. Secara teknik keduanya bisa dibaca sendiri-sendiri tapi dapat pula dinikmati sebagai sebuah kesinambungan, semacam dwilogi. Berlatar hari-hari terakhir ramadan kedua Cerpen bertut...

Emerson

Setidaknya ada dua pendapat terkait hubungan antara penyair dan tradisi. Pertama, penyair membenci tradisi; penyair adalah sosok yang memiliki kemampuan spesial memahami segala hal berdasarkan perasaan dan intuisinya. Berbekal perasaan dan intuisinya, seorang penyair selalu tak puas dengan realitas kini dan di sini dan oleh sebab itu selalu mengupayakan pembebasan diri dari—dan melampaui—tradisi yang melingkupi dan dianggap mencemarinya. Kedua, penyair dan tradisi saling merawat dan memuliakan; setiap penyair secara otomatis mengambil tempat dalam tradisi yang terus merus berbenah dan berubah. Penyair berkemampuan mengubah tradisi tapi ia tetap merupakan bagian dari tradisi. Kedua pendapat di atas dapat dilacak muasalnya dari dua tokoh besar dalam sejarah kesenian (sastra) Barat; butir pertama bertolak dari gagasan Ralph Waldo Emerson (1803-1882) seperti tercermin dari karangannya, sebuah naskah pidato, “The American Scholar” pada 1837. Sementara itu, butir kedua berangkat dari ...

Bermain dengan Blues Rendra (Kompas 26/09/2010)

WS Rendra (1935-2009) adalah salah satu seniman paling sempurna dalam khazanah kesenian Indonesia. Kreativitas Rendra tampak ketika ia dengan berani melompati pagar definisi stanza dan blues. Kesempurnaan Rendra tecermin dalam tiga buku yang diterbitkan setelah ia wafat dan didedikasikan kepadanya. Pertama, Rendra: Ia Tak Pernah Pergi (Penerbit Buku Kompas, 2009); kedua, Rendra Berpulang (Burung Merak Press, 2009); dan ketiga, Stanza dan Blues. Buku ketiga ini berisi puisi-puisi yang diambil-pilih dari dua buku puisi Rendra, Empat Kumpulan Sajak (Pustaka Jaya, 1961) dan Blues untuk Bonnie (Pustaka Jaya, 1971). Rendra: Ia Tak Pernah Pergi adalah kumpulan tulisan tokoh-tokoh yang secara intensif mengamati kiprah Rendra dari awal hingga akhir kehidupannya, baik sebagai penyair, bintang film, dramawan, maupun sebagai kritikus sosial; Rendra Berpulang menghimpun tulisan para tokoh dan berita dari sejumlah media massa, dalam dan luar negeri, terkait kepulangan Rendra ke pangkuan ila...

Teman Kayak Pacaran (TKP) Penyair dan Tradisi Part II

Di catatan sebelum ini, ke hadapan Anda saya sajikan beberapa puisi dari Malkan Junaidi yang terkumpul di buku kumpulan puisi “Di Bawah Cahaya yang Terpancar dari Ingatan Terhadapmu”, yaitu “Ingatan Terhadapmu,” “Esai tentang Puisi,” dan “Chairil Anwar telah Runtuh.” Tiga puisi di atas cukup mengesankan karena berhasil menunjukkan tak hanya posisi kepenyairan Malkan Junaidi tapi lebih dari pada itu ketiga puisi nenyiratkan adanya pemaknaan atas hubungan antara seniman, khususnya penyair, dengan apa yang dikenal sebagai tradisi. Budi Darma di salah satu karangannya yang berjudul “Para Pencipta Tradisi” (dalam “Solilokui Kumpulan Esei Sastra,” Gramedia, 1984, hal 6 s.d 10) menulis begini; “Pengarang yang baik adalah pengarang yang dapat menciptakan tradisi. Tapi tunggu dulu. Untuk dapat menciptakan tradisi, seorang pengarang tentu mempunyai gagasan yang orisinal. Ketahuilah, tradisi hanya dapat dicipta dengan gagasan-gagasan demikian. Kecuali itu, pengarang ini juga mempunyai kepr...

Teman Kayak Pacaran (TKP) Penyair dan Tradisi

Saya mendapat buku baru Di Bawah Cahaya yang Terpancar dari Ingatan Terhadapmu (Indie Book Corner, Jogjakarta, 2016), sebuah kumpulan puisi dari seorang penyair bernama Malkan Junaidi. Di bagian-bagian ujung buku yang tertera foto diri si penyair, Malkan menulis antara lain “buku puisi pertamanya ‘Lidah Bulan’ terbit tahun 2011. Satu dua puisinya bisa ditemukan di antologi bersama, antara lain ‘Cinta Gugat’ (Sastra Reboan, 2013); ‘Menulis Puisi Lagi’ (Majelis Sastra Bandung, 2015). Sebuah esainya dimuat di bunga rampai ‘Jimat NU’ (Ar Ruz Media 2014. Sekarang tinggal di Blitar dan bekerja sebagai petani.” Itu secuil bagian akhir buku Di Bawah Cahaya yang Terpancar dari Ingatan Terhadapmu . Secuil lagi saya cuplik dari bagian-bagian awal. Bagian awal ini perlu saya cuplik karena unik dan oleh karenanya ingin saya kulik lebih jauh. Bagian itu berbunyi “Tak ada kebaruan. Semua tulisan saya, terutama dari segi bentuk, hanyalah keterpengaruhan oleh para penulis yang melingkungi saya; h...

Flâneur Melayu Part IV (Melipat Kota dalam Kata-kata Perlawanan)

Mas Marco Inilah catatan yang saya janjikan, Melipat Kota dalam Kata-kata Perlawanan . Agar lebih mendekati apa yang saya maksudkan, pada judul yang terdengar ambisius dan bombastis ini kata “kata-kata” saya ubah menjadi “sajak-sajak.” Kata sajak, dan bukan puisi, saya pilih karena alasan sederhana sajak terkesan lebih bersahaja, klasik, dan menyiratkan sebuah ajakan bila dibandingkan dengan puisi yang sekarang kedengarannya koq lebih manja dan ganjen. Jangan tersinggung ya, Puisi. Catatan ini menjadi episode keempat dari catatan-catatan saya sebelumnya. Sengaja saya pakai istilah episode dengan harapan jumlah episode catatan-catatan saya mampu bersaing dengan jumlah episode Uttaran drama seri asal India yang bisa bikin ibu-ibu kesurupan secara terstruktur, sistematis dan massif jika sedang menyaksikan itu drama seri. ”Melipat Kota dalam Sajak-sajak Perlawanan” artinya menjadikan segala hal yang ada di kota sebagai pokok perkara sajak. Sajak perlawanan sendiri di mata saya ber...