Langsung ke konten utama

Postingan

PILPRES DAN SIRKULASI KEBENCIAN DI MEDIA SOSIAL

Bagaimana bisa seseorang, laki-laki dan atau perempuan, yang dulu terkenal  alim dan lembut bisa sangat brangasan dan seperti kesetanan saat mendukung dan membela calon presidennya di media sosial? Alfred Adler, salah seorang ahli ilmu jiwa terkemuka, termasuk orang yang paling intens menyelidiki masalah motivasi di balik dorongan agresif dalam diri manusia. Dalam menelaah masalah dorongan agresif, Adler memulai dengan memeriksa masalah inferioritas atau perasaan rendah diri manusia. Menurut Alfred Adler, setiap bayi yang lahir telah memikul perasaan rendah diri atau inferior karena dipicu ketidakmampuan;  misal saat bayi tak mampu melakukan apa yang dikerjakan orang dewasa. Kehidupan seseorang adalah perjuangan mengatasi masalah rendah diri. Hidup seseorang selalu dalam perjuangan menjadi sempurna atau superior dalam artian selalu berkeinginan memenuhi bakat atau potensi yang dimiliki alias selalu ingin mewujudkan mimpi-mimpinya. Masalahnya,  tidak...

Mengenang Jurnalis dan Novelis Majalengka Kang Ato

Kang Ato (paling kiri) Minggu 7 Oktober 2018, saya bertemu Kang Ato (Atho al Rahman) di ruangan HCU Rumah Sakit Siloam Karawaci; Kang Ato menjalani perawatan intensif di situ karena, kalau tidak salah menurut  keterangan keluarga,  ia menderita tumor. Pertemuan  dan percakapan saya dengan Kang Ato, yang ditemani istrinya, berlangsung sangat singkat, mungkin kurang dari lima menitan. Tapi, dari pertemuan sesingkat itu saya menangkap kesan, betapa Kang Ato sedang berusaha sekuat tenaga melawan rasa nyeri  yang teramat sangat. "Adoh pisan kang, Siloam." (Jauh banget kang, Siloam) Tanya saya membuka percakapan. "Iya, doy." Jawab Kang Ato dengan suara lemah, setelah cukup lama terdiam kerena kesulitan bernafas. Dalam hati saya bersyukur Kang Ato masih bisa mengenali saya. Ruang perawatan yang sangat terang membuat saya bisa melihat ke wajah Kang Ato yang  terlihat pucat tapi tetap berusaha menampilkan senyum ramah; sebuah kebiasaan Kang Ato saa...

ARTEREALITY

Beberapa waktu  lalu viral  video singkat yang menampilkan perabotan-perabotan jadul meliputi pinsil, kaset pita, tape recorder, setrika bertenaga arang, model-model jajanan dan permainan kanak-kanak di masa lalu, hingga lagu-lagu dan tayangan-tayangan televisi yang pernah hits di jamannya. Meski secara pengeditan terkesan asal-asalan, video pendek ini   cukup menarik perhatian begitu banyak orang. Di sadari atau tidak, model-model kreasi   macam ini, hampir pasti   mengandaikan     riset kecil-kecilan. Kerja artistik berbasis riset   diprediksi menjadi tren kini dan nanti setidaknya seperti dimaklumatkan Jeffrey T. Schnapp dan Michael Shanks (2009) lewat neologisme baru   dari mereka   “artereality.”   "Artereality" atau realitas arteri adalah   tanggapan kreatif bidang kesenian terhadap situasi mendua yang dihadapi kreasi artistik kekinian; Di satu pihak, pasar meminta dilakukan demistifikasi model produksi, di ma...

"Philoselfie"

Saat selfie (swafoto), orang biasanya hanya memotret bagian paling unik serta menarik dari dirinya dan ogah menjepret bagian-bagian yang menurutnya buruk dan memalukan hingga tak layak dibagikan pada orang lain. Sampai saat ini jarang saya lihat foto selfie orang saat ia sedang menghayati ngupil atau menguap dengan mulut menganga maksimal. Belum pernah juga saya lihat pose selfie orang saat menikmati aksi bersih-bersih sisa makanan yang nyangkut di sela-sela gigi. Begitulah pemirsa.   Apa-apa saja yang dipotret lalu dibagikan,  itulah yang disebut sebagai citra, sedangkan tindakan terus menerus memotret bagian paling menarik dari diri untuk kemudian secara sadar dibagikan ke orang lain disebut pencitraan. Pembelahan citra dan pencitraan menyiratkan pertanyaan, dari citra yang tertangkap oleh mata, manakah yang paling mewakili karakter "ori" seseorang yang gemar berswafoto? Bermasalahkah kejiwaan orang yang setiap saat beraksi selfie? Sebentar....

Aku Komentar Maka Aku Ada (2)

Perbedaan  kritik dan komentar: kritik melakukan penilaian kemudian menciptakan sebuah putusan. Sebuah klaim; baik atau buruk, indah atau jelek dll. Penilaian bertitik-tolak dari sebuah keyakinan ada yang sengaja disembunyikan di balik apa yang tampak dan terlihat. Nah, yang tersembunyi ini kita sebut saja maksud, makna, yang hakiki, atau lugasnya yang orisinal. Kritikus alias orang yang kerjanya mengeritik, juga bukan orang sembarangan. Dia biasanya punya kewenangan tertentu misal karena latar belakang riwayat pendidikan.  Latar belakang ini penting karena nanti bisa jadi bekal untuk pertanggungjawaban atas keputusan-keputusan yang dia buat. Jadi tidak asal bunyi. Kritikus seni, sebagai contoh, berarti orang berlatar belakang pendidikan kesenian yang kerjanya mengeritik karya seni, menentukan kualitas karya seni.  Pertimbangan-pertimbangan kritikus seni umumnya berpijak dari dan demi karya seni itu sendiri. Perkara-perkara di luar karya seni adalah o...

Aku Komentar Maka Aku Ada (1)

Kita, aku dan kamu. Iya kamu adalah mahluk cerewet. Segala hal dikomentari entah apakah komentar itu bagian dari profesi  atau ungkapan dari naluri purbamu yang tak bisa hidup tanpa komunikasi. Lepas dari logika dagang yang sering menyelinap di balik intensitas komentar, keberadaan seseorang di muka bumi masa kini, tampak akan lebih ditentukan oleh seberapa hebat dan menarik dalam berkomentar. Aku komentar, maka aku ada. Lihatlah! Status dan cuitan penuh sesak oleh komentar, belum lagi jelas-jelas tersedia kolom komentar di nyaris semua jejaring sosial juga media daring. Komentar yang "nota bene" sekadar sisipan seringkali lebih menarik dari perkara pokok/inti permasalahan yang sedang disampaikan.  Sebutan "cebong, kampret, gabener dan wagabener, jokower, ahoker, sist, bro, gan, otw, btw, say, bun," dan seterusnya adalah istilah-istilah yang setahu saya awalnya bersumber dari komentar warganet di media sosial, tapi pada perkembangannya menjelma ...

Wanita atau Harimau?

Frank R. Stockton, seorang penulis Amerika, punya cerita menarik yang  judulnya "Lady or the Tiger." Begini ringkasannya: Pada jaman dahulu, hiduplah seorang raja yang lumayan kejam. Selain agak kejam sang raja terkenal kreatif dan inovatif. Raja punya seorang putri  cantik yang jatuh cinta pada ksatria tampan. Sialnya, hubungan putri dan si ksatria  tak direstui raja. Episod pacaran diam-diam putri dan ksatria terhenti saat raja akhirnya tahu hubungan mereka. Raja murka sudah biasa dalam dongengan. Yang tak biasa adalah cara raja mengadili  si ksatria. Di hari pengadilan. Dua buah pintu kembar ukuran besar disiapkan. Di balik pintu pertama, raja menempatkan harimau buas dan di balik pintu kedua, raja menaruh wanita yang kecantikannya setara dengan kecantikan tuan putri--kalau di sini mungkin mirip Pevita Pearce. Wanita di balik salah satu pintu, ternyata fans berat si ksatria dan sering membuat hati si putri meleleh terbakar api cemburu. Jika si ksatri...